Pendekatan Eklektik
Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan atau fisikologis dinilai benar, yang bagi merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan Eklektik (Wilford A. Weber , 1986 dalam Rachman 1998:80). Syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapakan pendekatan eklektik yaitu (Entang dan Raka Joni dalam Rachman 1998:80):
1. Menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial.
2. Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah manajemen kelas.
Simpulannya adalah bahwa kemampuan guru memilih strategis manajemen kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadainaya.
Pendekatan Analitik Pluralistik
Pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memillih strategi manajemen kelas atau gabungan berbagai strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Pendekatan analitik pluralistik memperluas jamgkauan pendekatan.
Pendekatam analitik pluralistik tidak mengikat guru pada serangkaian strategi manajerial tertentu saja. Guru bebas mempertimbangkan semua strategi yamg mungkin efektif. Terdapat 4 tahap pendekatan analitik pluralistik yang perlu dicermati dalam penggunaannya:
1. Menentukan kondisi kelas yang diinginkan
Langkah pertama dalam proses memanajemeni kelas yang efektif ialah menentukan kondisi kelas yang ideal. Guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam tentang kondisi-kondisi yang menurut penilaiannya akan memungkinkan mengajar secara efektif. Disamping itu, guru hendaknya menyadari perlunya terus-menerus menilai manfaat pemahamamnya dan mengubahnya apa bila keadaan menuntutnya.
Keuntungan utama terciptanya kondisi kelas yang diyakini guru sesuai adalah:
a. Guru tidak memandang kelas semata-mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b. Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan upayanya dan yang menjadi tolok ukur penilaian atas hasil upayanya.
2. Menganalisis kondisi kelas yang nyata
Setelah menentukan kondisi kelas yang diinginkan, guru selanjutnya menganalisis keadaan yang ada, yaitu membandingkan keadaan yang nyata degan keadaan yang diharapkan. Dengan demikian, anaalisis ini akan memungkinkan guru yang guru mengetahui:
a. Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan yang kemudian menentukan kondisi yang perlu mendapat perhatian segera dan mana yang dapat diselesaikan kemudian, dan kondisi mana yanng memerlukan pemantauan.
b. Masalah yanng mungkin terjadi yaitu kesenjangan yang mungkin timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan.
c. Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap sudah baik. Asumsi tahap kedua dari analitik pluralistik ini adalah bahwa efektif adalah guru yang terampil mennganalisis interaksi kelas dan peka terhadap apa yang sedang terjadi dikelasnya.
3. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi menajerial yang terkandung di dalam berbagai pendekatan manajemen kelas, dan mampu memilih serta menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang telah dianalisis sebelumnya.
4. Menilai efektifitas pengelolaan
Dalam hal ini guru menilai efektivitas dalam pengelolaannya. Artinya dari waktu kewaktu guru harus menilai seajauh mana keberhasilan menciptakan dan memelihara kondisi yang sesuai. Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada dua perangkat perilaku. Perilaku pertama adalah perilaku guru, dalam arti sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang dilakukan. Perilaku kedua adalah perilaku peserta didik, yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka melakukan apa-apa yang diharapkan untuk dilakukan.
Pendekatan Yang Berorientasi Pada Siswa
Asumsi utama pendekatan ini adalah kepercayaan bahwa anak-anak perlu mengatasi akibat dari sikapnya sendiri dari pada meminta seorang dewasa memberitahukan bagaimana harus bersikap. Siswa harus membuat keputusan sendiri alasannya adalah bahwa hanya mereka yang dapat menentukan apakah masalah itu sebenarnya, dan pilihan jalan keluar yang paling cocok ditentukan oleh mereka sendiri, sesuatu yang baik bagi mereka.
Tujuan pendekatan berorientasi pada siswa ialah untuk menenangkan keadaan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan masalah mereka sehingga dapat mengidentifikasinya secara jelas, mengajukan jalan keluar alternatif, mengevaluasinya dan melaksanakan satu yang mereka pikir terbaik bagi diri mereka.
a. Permasalahan siswa
Beberapa situasi yang memberi contoh bahwa sikap tidak layak lebih pada masalah siswa daripada masalah guru sebagai berikut:
Cleo kecewa karena tidak dipilih untuk tim
Moris tidak memiliki teman
Ian tidak melenkapi PR nya
Serge mengira dia bodoh dalam matematika
b. Tindakan Guru Terhadap Siswa Yang Bermasalah
Unutk mendemonstrasikan baik penerimaan maupun pengertian anda mengenai keadaan siswa, dalam wakut yang berbeda yang anda lakukan adalah:
1) Anda tidak perlu melakukan apapun
2) Tidak perlu mengatakan apapun
3) Malah mengundangnya untuk berbicara lebih banyak atau mendorong siswa agar terbuka.
4) Melakukan konsultasi dengan siswa secara aktif menyimak dengan aktif, yaitu dengan membiarkan siswa tahu bahwa anda telah mendengar apa yang dikatakan.
c. Masalah Guru
Beberapa contoh lebih jauh tentang masalah guru adalah sebagai berikut :
1. Jeremy secara terus menerus datang terlambat dan menganggu kelancaran kelas.
2. Adi berbicara saat anda sedang berbicara pada kelas.
3. Jan mencoreti barang milik kelas.
4. Esa terus menerus berteriak-teriak di kelas.
5. Agusta menentang anda dan menolak mengikuti perintah, dll.
Saat anda mengalami masalah yang disebabkan oleh sikap siswa anda, disarankan untuk memungkinkan anda mempengaruhi siswa sehingga jalan keluar dapat dicapai dengan cara :
1. Anda harus membiarkan siswa mengetahui aspek sikap mereka yang mana yang menyebabkan masalah dan apa alasannya.
2. Apabila memberi tahu siswa saja tidak cukup untuk membuat siswa secara sukarela mengubah sikapnya, baik anda maupun siswa anda harus menunjukkan cara pandang mengapa sikap tersebut tidak layak.
3. Baik anda maupun siswa harus menganjurkan jalan keluar alternatif terhadap masalah dan menetapkan satu kesepakatan yang disetujui kedua pihak.
4. Baik anda maupun siswa harus menyetujui bagaimana jalan keluar tersebut seharusnya diterapkan dan dievaluasi.
Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah dalam memahami masalah guru :
Langkah 1): biarkan siswa mengetahui apa “masalah” sebenarnya
i-message membuat siswa mengetahui bahwa sikap mereka menyebabkan masalah tanpa menyalahkan mereka atau mengatakan apa yang harus dilakukan.
Dalam pendekatan i-message terdapat 3 hal yang teridentifikasi yaitu :
a. Sikap siswa menyebabkan masalah bagi guru
b. Akibat yang ditimbulkan atas sikap siswa yang tidak layak pada guru
c. Bagaimana perasaan guru atas akibat yang ditimbulkan oleh sikap tersebut
Langkah 2): menyimak dengan aktif
Langkah 3): temukan jalan keluar
Untuk mencapai jalan keluar bersama dengan siswa,secara baik pertimbangan semua jalan keluar yang tersisa setelah langkah menghilangkan hal-hal yang tidak cocok dan putuskan secara bersama sikap mana yang terbaik.
Langkah 4): terapkan dan evaluasi jalan keluar
Elemen terakhir dalam pendekatan berorientasi pada siswa adalah memeriksa apakah jalan keluar yang disepakati berhasil memuaskan siswa dan guru yang terlibat.
d. Sebuah peringatan
Sebelum berpindah dari pendekatan berorientasi pada siswa, penting untuk menekan bahwa penggunaan teknik seperi yang digambarkan dalam bab ini tidak sampai pada keadaan di mana guru mengalah pada siswa. Prosesnya dirancang untuk memberikan hak pada guru untuk mencapai jalan keluar terhadap masalah kedisplinan yang memuaskan mereka.
e. Kemauan baik dari Pendekatan Berorientasi pada siswa
Pendukung pendekatan berorientasi pada siswa akan membantah bahwa dengan berkonsentrasi untuk memahami cara pandang siswa terhadap masalah yang muncul dikelas, respon yang anda sampaikan akan memperlihatkan penghargaan anda terhadap siswa. Dengan memperlakukan siswa sebagai mitra yang sederajat, anda akan menjaga hubungan baik antara guru-siswa yang berkualitas tinggi dan membuahkan sejumlah kemauan baik yang banyak.
Pendekatan yang berorientasi pada Guru
Pendekatan yang berorientasi pada guru mengubah sikap tidak layak siswa secara radikal berbeda dari ragam bentuk pengaruh meskipun tujuannya sama melakukan yang terbaik untuk siswa.
a. Anggapan tentang pendekatan yang berorientasi pada Guru
Pendukung model pengawasan menganggap bahwa keputusan yang diambil oleh para siswa tentang sikap mereka sendiri seringkali berdasarkan informasi minimal yang benar dan sebetulnya para siswa pada dasarnya memang nakal. Pendukung pendekatan berorientasi pada guru menyangkal bahwa jika perhatian yang anda miliki, sebagai seorang guru dalam mengubah sikap seorang siswa bermasalah dapat dilaksanakan karena didukung oleh perhatian dan keprihatinan terhadap kepribadian anak tersebut (juga perhatian dan keprihatinan yang sama terhadap anda sendiri). Anda tidak hanya mempunyai hak untuk mencampuri dan mengubah perilaku siswa tetapi anda berkewajiban untuk melakukannya.
b. Respon terhadap sikap tidak layak siswa
1. Ketegasan
Pengawasan, respon ideal anda terhadap sikap tidak layak siswa merupakan sikap yang tegas. Respon semacam ini membuat siswa anda mengetahui bahwa anda mengharapkan mereka untuk melakukan apa yang anda inginkan dan anda siap untuk melaksanakan pendapat dengan tindakan tegas untuk meyakinkan bahwa mereka patuh. Respon tegas dapat dimengerti dengan baik jika dikontraskan dengan respon tidak tegas dan melawan.
2. Respon tidak tegas
Respon tidak tegas pada dasarnya memberitahukan bahwa anda tidak bersungguh-sungguh ingin melakukan campur tangan.
3. Teknik melawan
Secara kontras respon melawan merupakan respon yang memberitahukan siswa bahwa guru guru tidak menyukai mereka dan tidak mengkhawatirkan mereka tentang perasaan dan kebutuhan mereka. Respon melawan pada umumnya berbentuk guru kehilangan kesabaran dan mereka berteriak pada siswa memanggil siswanya dengan kata bodoh atau malas atau menggunakan ungkapan kasar.
c. Langkah-langkah yang tegas
Sebagai guru, anda membutuhkan 4 langkah yang tegas daripada melibatkan diri dengan respon perlawanan atau respon tidak tegas akibat sikap yang tidak layak :
1. Anda harus memutuskan aspek mana dari sikap siswa yang tidak layak oleh karena itu perlu dihentikan dan ini merupakan bagian dari proses ini adalah mengembangkan peraturan tentang sikap layak.
2. Anda perlu mengembangkan seperangkat alat untuk mengatasi baik akibat positif dan akibat negatif untuk diterapkan, segera setelah peraturan tersebut dilanggar.
3. Anda harus mampu mengutarakan pengharapan anda kepada siswa siswi dan menyampaikan kepada mereka akibat yang ditanggung terhadap sikap layak atau tidak layak yang mereka lakukan.
4. Anda harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk menghadapi akibat yang timbul saat sikap tidak layak terjadi.
d. Memutuskan sikap layak siswa
Dalam memutuskan tingkat kelayakan siswa maka ada gunanya menjawab pertanyaan berikut :
1. Apakah sikap tersebut merupakan hal yang terbaik yang menyangkut kepentingan siswa ?
2. Apakah sikap tersebut berguna bagi kepentingan siswa ?
3. Apakah saya bersedia memberikan waktu dan tenaga saya untuk mengusulkan sikap semacam itu terhadap siswa ?
Beberapa contoh sikap yang biasanya dididentifikasi oleh guru sebagai keharusnya yaitu :
1. Bicara hanya saat siswa lain selesai berbicara
2. Siswa tidak boleh mengganggu temannya
3. Mematuhi perintah guru
4. Membawa peralatan yang diperlukan ke kelas
e. Menetapkan ragam konsekuensi
1. Ketika siswa patuh
Salah satu elemen yang peling penting yaitu guru harus mendemonstrasikan persetujuan dan penghargaan mereka terhadap sikap siswa yang layak jika mereka menginginkan sikap tersebut berlanjut.
• Pujian verbal sangat spesifik
• Pujian tidak verbal
• Pemberian hak-hak istimewa
• Hadiah seperti permen atau alat tulis
2. Ketika siswa tidak patuh
Saat siswa tidak mematuhi peraturan guru pendekatan yang berorientasi pada guru yaitu membahas tentang reaksi negatif. Tujuan kedisiplinan yaitu membantu siswa dalam menjaga sikap belajar yang konsisten dan menjaga perekembangan siswa. Tujuh macam reaksi negatif :
• Memisahkan siswa dari teman sekelasnya
• Mengucilkan siswa dalam waktu singkat didalam maupun diluar kelas
• Penghapusan hak istimewa
• Detensi, sewaktu tugas-tugas yang belum lengkap, siswa harus menyelesaikan dulu tugas tersebut baru dapat bergabung dengan teman yang lainnya.
• Mengirimkan siswa keguru lain
• Pemberitahuan kepada orangtua siswa
• Pengucilan sementara dari sekolah
f. Cara memberi tahu kepada siswa
Saat menetapkan aturan-aturan dan memberitahukan pada siswa tentang hukumannya adalah sewaktu siswa dan guru dalam keadaan tenang dan merupakan kesempatan untuk berbicara tanpa gangguan.
g. Tindakan yang mengikuti bila siswa bersikap baik
Sebagaimana akibat yang tidak menyenangkan mengikuti sikap yang tidak diinginkan, akibat yang menyenangkan mengikuti juga sikap yang baik.
h. Kemauan baik pendekatan yang berorientasi pada guru
Pada pendekatan yang berorientasi pada guru kemauan baik mungkin tidak tampak begitu terlihat pada guru yang tegas. Alasan utamanya adalah bahwa dalam sebagian besar interaksi kedisiplinan mungkin tampak bagi siswa bahwa mereka kalah, dan melalui pendekatan tersebut pula guru yang berkuasa dan gurulah yang menang namun sekali siswa menyadari bahwa hal tersebut semata-mata merupakan kepedulian dari guru atas kesejahteraan siswa yang menyebabkan campur tangan guru, mungkin siswa tidak akan membenci campur tangan guru.
No comments:
Post a Comment